Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Narsis Produktif? Siapa Takut?

SUATU hari, Narkissos (atau dalam bahasa latin biasa ditulis Narcissus) tengah duduk disamping kolam yang jernih. Seperti rutinitas yang kerap dilakukannya selama ini, ia memang tengah memandangi wajahnya pada bayangan tenang di air kolam.
Akan tetapi, kali ini Narkissos tak puas hanya memandangi wajahnya dalam bayangan air kolam. Ia pun menjulurkan tangannya hendak menyentuh wajah yang dicintainya. Sialnya, ia malah kemudian tenggelam.
Sigmund Freud, tokoh ilmu psikologi dunia, pertama kali menyadur cerita Narkissos ini untuk menggambarkan sifat manusia yang cinta diri sendiri secara berlebihan dan disebut dengan gejala narsisisme (bahasa Inggris) atau narsisme (bahasa Belanda).
Namun kini, istilah narsisme jauh mengalami perubahan makna kata menjadi lebih baik. Narsisme kini berubah arti menjadi sebuah cara mengeksplorasi diri sebagai bentuk kepercayaan diri dalam bentuk positif. 

Innovate or Die!

Sejak lama, seperti kita saksikan di berbagai belahan dunia, bahkan hingga daerah pedesaan di Bantul, Yogyakarta, musik adalah salah satu budaya universal. Artinya, boleh jadi tak semua orang mengerti bahasa yang diucapkan penyanyi, namun denting irama musik di dalamnya membuat orang bisa larut menikmati.
Bayangkan bagaimana seorang pemuda desa misalnya, yang terlihat sangat menghayati lagu Ready Stedy Go dari band J-Rock tersohor, L'Arc en Ciel, padahal sebenarnya tidak faham bahasa Jepang! Atau bagaimana kompaknya anak kecil di negeri ini fasih berdansa gaya Rihanna dalam lagu Umbrella. 
Musik memang menyatukan berbagai perbedaan, sekalipun yang tampak sulit berpadu --semisal suku bangsa, warna kulit, bahasa, strata sosial, hingga agama. Harmonisasi nada di dalamnya meleburkan itu semua, sebab orang kompak merapalkan nada yang sama ketika disuguhi harmonisasi yang melanutkan jiwa. 


Kekuatan Mimpi Pemuda Masa Depan

MUHAMMAD Yamin, pemuda asal Sawahlunto yang mengenyam pendidikan dan akhirnya berdomisili di Jakarta bermimpi, jika Indonesia adalah sebuah bangsa, bukan sekedar tempat persinggahan Belanda yang merampas segalanya. Berawal dari mimpi itulah, M. Yamin merajutnya dengan dedikasi besar untuk nusantara dan salah satunya menjadi seorang pencetus Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Dengan tekad menjunjung tinggi harkat martabat bangsa, Yamin sadar jika Indonesia akan jadi negara besar jika bisa terlepas dari titel negeri jajah bangsa lain. Maka dari itu, atas pemikiran matang dari konsep Boedi Utomo yang sudah lahir pada 20 Mei 1908, Yamin semakin percaya diri jika pemuda juga bisa membelokkan nasib bangsa.