SUATU hari, Narkissos (atau dalam bahasa latin
biasa ditulis Narcissus) tengah duduk disamping kolam yang jernih.
Seperti rutinitas yang kerap dilakukannya selama ini, ia memang tengah
memandangi wajahnya pada bayangan tenang di
air kolam.
Akan tetapi, kali ini Narkissos tak puas hanya
memandangi wajahnya dalam bayangan air kolam. Ia pun menjulurkan
tangannya hendak menyentuh wajah yang dicintainya. Sialnya, ia malah
kemudian tenggelam.
Sigmund Freud, tokoh ilmu psikologi dunia, pertama
kali menyadur cerita Narkissos ini untuk menggambarkan sifat manusia
yang cinta diri sendiri secara berlebihan dan disebut dengan gejala
narsisisme (bahasa Inggris) atau narsisme
(bahasa Belanda).
Namun kini, istilah narsisme jauh mengalami
perubahan makna kata menjadi lebih baik. Narsisme kini berubah arti
menjadi sebuah cara mengeksplorasi diri sebagai bentuk kepercayaan diri
dalam bentuk positif.
