Kamis, 05 Juli 2012

Innovate or Die!

Sejak lama, seperti kita saksikan di berbagai belahan dunia, bahkan hingga daerah pedesaan di Bantul, Yogyakarta, musik adalah salah satu budaya universal. Artinya, boleh jadi tak semua orang mengerti bahasa yang diucapkan penyanyi, namun denting irama musik di dalamnya membuat orang bisa larut menikmati.
Bayangkan bagaimana seorang pemuda desa misalnya, yang terlihat sangat menghayati lagu Ready Stedy Go dari band J-Rock tersohor, L'Arc en Ciel, padahal sebenarnya tidak faham bahasa Jepang! Atau bagaimana kompaknya anak kecil di negeri ini fasih berdansa gaya Rihanna dalam lagu Umbrella. 
Musik memang menyatukan berbagai perbedaan, sekalipun yang tampak sulit berpadu --semisal suku bangsa, warna kulit, bahasa, strata sosial, hingga agama. Harmonisasi nada di dalamnya meleburkan itu semua, sebab orang kompak merapalkan nada yang sama ketika disuguhi harmonisasi yang melanutkan jiwa. 



Maka tak perlu heran jika musik pun menjadi salah satu kebutuhan ummat dunia. Sekalipun mereka harus keluar uang tidak sedikit, namun pengeluaran itu dianggap sebagai nilai sepadan dalam mengimbangi berbagai kepenatan keseharian yang sering dirasakan manusia dimanapun.
Simak data lembaga riset musik Amerika Serikat, SoundScan, yang pernah meneliti betapa masyarakat sangat butuh musik dalam hidupnya. Karena itu, ratusan juta album musik dibeli di dunia di setiap tahunnya, baik di benua maju maupun negara-negara berkembang bahkan miskin.
Seolah sudah menjadi kebutuhan sama pentingnya dengan kebutuhan makan, SoundScan mencatat periode keemasan penjualan album musik dalam bentuk fisik (kaset, CD, dan DVD) terjadi pada periode 2002-2004 lalu. Puncaknya terjadi di tahun 2000 dengan penjualan album fisik di dunia hingga 730 juta album!
Setelah itu, pada tahun 2001 menjadi 712 juta album, 2002 (649,5 juta album), 2003 (635,8 juta), dan 2004 (651,1 juta album). Dan setelah itu, bolehlah disebut penjualan album musik fisik kemudian memasuki masa suram akibat berbagai faktor.
Simak data SoundScan periode tahun 2006-2010, dimana penjualan rata-rata album fisik di bawah 500 juta album atau sesuatu yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Lihat saja penjualan tahun 2006 'hanya' 500,5 juta album fisik, 2007 (450,5 juta), 2008 (362,6 juta), 2009 (373,9 juta), dan 2010 (326,2 juta).
Dari angka yang fantastis tersebut, tercatat lima negara sebagai konsumen utama pembeli album fisik yakni Amerika Serikat dengan pembelian 30-35% dari total album musik dunia, 
Jepang (16–19% dari total album), Inggris (6,4–9,1% dari total album), Jerman (5,3–6,4% dari total album), dan Prancis (5,4–6,3% dari total album).
Lembaga riset itu selanjutnya mengatakan penurunan terjadi utamanya karena terjadi perubahan gaya hidup masyarakat dunia, dari budaya analog ke digital. Mendengarkan musik tak lagi dalam format perantaraan fisik, namun terutama sejak tahun 2006, mendengarkan musik juga melalui berbagai perangkat digital.
Kehadiran MP3 player, netbook, komputer desktop, dan berbagai peranti terkait, membuat medium pemutar musik bukan lagi tape compo ataupun walkman yang kabelnya sering bikin ribet. Semuanya serba digital dan praktis karena lagu dan musisi pujaan Anda dibuat dalam format MP3 yang serba efisien.
Karena itulah, masih kata lembaga riset tadi, meski turun kuantitas, namun sebetulnya nilai omset bisnis musik tak berkurang sama sekali. Bahkan cenderung naik karena orang pun makin mudah membeli album digital, semuanya tinggal pencet keypad/keyboard di ujung telunjuk!
Sadar akan situasi tersebut, seluruh stakeholder terkait musik di Indonesia pun segera berbenah dan menyesuaikan dengan derap kemajuan musik digital ini. Bukan hanya musisi, artis, pencipta lagu, bahkan operator seluler pun ikut ambil bagian dalam perubahan bisnis musik ini. 
Misalnya yang dilakukan PT XL Axiata Tbk (XL) yang baru saja merilis layanan konten yang dapat dinikmati di ponsel dengan konsep fans-base bernama Musikkamu. Bekerjasama dengan perusahaan rekaman terbesar di Indonesia, Musica's Studio, konsep layanan musik digital ini adalah yang pertama di Indonesia.
Mengapa pertama? Sebab, Musikkamu adalah portal/platform berbasis WAP di Indonesia sekaligus menyediakan layanan dimana artis bisa berkomunikasi langsung dengan penggemarnya. Konsep portal yang ada biasanya berbasis WEB dan belum sepenuhnya menyatukan artis dengan penggemarnya.
Dengan demikian, Musikkamu dapat dinikmati di berbagai jenis ponsel dengan fasilitas WAP, termasuk ponsel low-end dengan menggunakan menu UMB. Selain untuk mengunduh RBT, ringtone, full track, wallpaper, dan informasi lengkap mengenai musisi favorit mereka, dalam waktu dekat juga akan dilengkapi fasilitas live chat yang bisa dipakai pelanggan berinteraksi dengan teman-temannya, bahkan dengan musisi idolanya.
Selain itu, pelanggan dapat mengajak teman-temannya untuk membuat band virtual yang dapat ikut kompetisi khusus. Layanan dari XL ini juga dapat dihubungkan dengan akun Facebook dan Twitter pelanggan sehingga mereka dapat memberitahukan aktivitas mereka di Musikkamu kepada teman-temannya. Pelanggan juga dapat membuat avatar personalisasi diri mereka dan mendandaninya dengan barang-barang virtual yang dapat dibeli.
Menu lain dalam MusikKamu adalah pelanggan dapat melihat tangga lagu yang paling banyak diunduh setiap minggunya, serta mengintip jadwal tur dan event musisi kesayangannya. Tak hanya itu, ada juga sistem point di mana nantinya point dapat ditukarkan dengan merchandise dan tiket konser, serta level yang akan menantang penggunanya. Musikkamu mendapatkan dukungan sepenuhnya dari semua musisi Musica Studio’s, antara lain Peterpan, Geisha, Nidji, D’Masiv, Duette, Kesna, Supernova, Astoria, Sheryl, dst.
Akhir kata, sekalipun musik budaya universal yang mudah dimengerti siapapun di muka bumi ini, bukan berarti cara menikmatinya akan statis. Selalu ada perubahan, perkembangan cepat dalam menikmatinya, termasuk dengan tren digital saat ini. Segeralah berubah jika tidak ingin dilindas zaman, seperti selalu ditekankan almarhum pendiri Apple, Steve Jobs: Innovate or die!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar