SUATU hari, Narkissos (atau dalam bahasa latin
biasa ditulis Narcissus) tengah duduk disamping kolam yang jernih.
Seperti rutinitas yang kerap dilakukannya selama ini, ia memang tengah
memandangi wajahnya pada bayangan tenang di
air kolam.
Akan tetapi, kali ini Narkissos tak puas hanya
memandangi wajahnya dalam bayangan air kolam. Ia pun menjulurkan
tangannya hendak menyentuh wajah yang dicintainya. Sialnya, ia malah
kemudian tenggelam.
Sigmund Freud, tokoh ilmu psikologi dunia, pertama
kali menyadur cerita Narkissos ini untuk menggambarkan sifat manusia
yang cinta diri sendiri secara berlebihan dan disebut dengan gejala
narsisisme (bahasa Inggris) atau narsisme
(bahasa Belanda).
Namun kini, istilah narsisme jauh mengalami
perubahan makna kata menjadi lebih baik. Narsisme kini berubah arti
menjadi sebuah cara mengeksplorasi diri sebagai bentuk kepercayaan diri
dalam bentuk positif.
Pada era tahun 2000-an, istilah narsis jarang
terdengar kecuali di kalangan tertentu. Tapi satu dekade setelahnya,
dimana dunia semakin mengenal teknologi, semua orang sudah paham betul
artinya.
Munculnya ‘dinasti’ Facebook menyuburkan aksi
narsis produktif. Penggunanya seringkali mengunduh foto-foto dirinya.
Ya, hanya dirinya, dengan jumlah yang banyak di akun miliknya di situs
tersebut.
Dan sifat narsis semakin menyebar sejak kanal
Youtube dibuka Chad Hurley di San Bruno, California, Amerika Serikat
tahun 2005. Sebelum dibuka, unggahan video ke jejaring sosial memang
sudah pernah dilakukan dengan bantuan koneksi
internet.
Namun sejak Youtube dibuka, kanal tersebut seakan-akan terus dibanjiri beragam video jutaan manusia setiap harinya.
Tahun 2007 saja, unggahan video ke situs jejaring
video ini mencapai 10 persen dari trafik internet seluruh dunia. Bahkan,
persentase Youtube yang digunakan masyarakat Indonesia mengambil
market share 23 persen dari seluruh negara di Asia.
Perkembangannya juga terus menggurita seiring banyaknya artis-artis
debutan dari kanal ini. Lihat saja, hampir seluruh masyarakat Indonesia
kini mengetahui fenomena keong racun dari Sinta dan Jojo,
dua mahasiswi geulis dari Bandung yang rela memonyong-monyongkan bibirnya di depan
web kamera. Hasil iseng itu, berbuah popularitas keduanya yang pada ketika itu langsung melejit bak roket ke angkasa.
Publik juga pasti familiar dengan nama Briptu Norman. Norman juga tenar berkat jodeg India dan lipsync lagu
Chaya-Chaya. Ketenarannya membuat lidah berdecak kagum, dan kini dia sudah sepenuhnya menjadi selebritis.
Narsis produktif, kini menjadi tujuan dari banyak
orang yang memanfaatkannya. Youtube hadir sebagai media hiburan, berbagi
informasi yang lebih nyata dengan gambar bergerak, dan juga: Mencari
popularitas.
Selain dipenuhi video tips memasak, mengenakan
kerudung, menjahit baju, membongkar mesin, sudah tak asing lagi jika
Youtube pun kini menjadi “perusahaan rekaman” kedua bagi mereka yang
ingin tampil sebagai penyanyi.
Sebelum mengenal youtube, seorang Justin Bieber
hanyalah anak berbakat dari Kanada yang bakatnya sulit sekali dikenali
dengan hanya fokus pada perlombaan menyanyi. Tapi sejak videonya
diunggah, dan ditemukan produser musik handal,
lihatlah Justin sekarang. Ia menjelma menjadi idola jutaan remaja dunia
dan mampu menghabiskan perawatan rambut senilai Rp 1 miliar per
bulannya!!
Dengan keberhasilan ini, nasib seperti Justin tentu
didambakan sebagian orang. Harapan mereka pun disandarkan pada ampuhnya
Youtube. Cari lokasi dengan pencahayaan bagus, kenakan baju terbaikmu,
rekam aksimu, dan unggah ke situs
ini. Voila! Jika orang senang dengan videomu dan nasib baik berpihak, seketika Anda bisa menjadi artis.
Seperti halnya jejaring sosial lainnya, Youtube
juga mengandalkan koneksi jaringan internet agar bisa mengaksesnya.
Karena itu, tak salah jika sepuluh tahun lagi, trafik data (internet)
dunia akan semakin ramai dan sibuk dengan
pertumbuhan unggahan video mencapai 75 persen dari keseluruhan bandwith internet.
Melihat potensi itu, PT XL Axiata telah menanamkan
investasi sebesar Rp 8 trilyun di tahun ini, dengan 60 persen dari total
investasinya untuk investasi 3G. Dimana upaya ini untuk mendukung
perubahan akses dari 2G menjadi 3G di
Indonesia.
Investasi tersebut akan membangun sekitar 30 ribu
BTS, pengembangan BTS 3G di puluhan kota, serta upaya mengedukasi
pelanggan beralih ke layanan 3G yang lebih nyaman.
Penggunaan XL 3G diharapkan memberi keuntungan bagi
pelanggan karena akan mendapat koneksi lebih cepat. Saat ini, dari
total pelanggan XL berjumlah 46 juta pelanggan, sebanyak 26-27 juta
pelanggan merupakan pengguna data. Dari
angka tersebut, 7 juta pelanggan menggunakan data setiap hari serta
1,8-2 juta pelanggan menggunakan data tergolong besar.
Jelas sudah, potensi besar ini direspon dengan
tanggung jawab XL mengusahakan pelayanan lebih baik bagi penggunanya.
Jadi, siapa takut narsis produktif??

Tidak ada komentar:
Posting Komentar