Kamis, 05 Juli 2012

Narsis Produktif? Siapa Takut?

SUATU hari, Narkissos (atau dalam bahasa latin biasa ditulis Narcissus) tengah duduk disamping kolam yang jernih. Seperti rutinitas yang kerap dilakukannya selama ini, ia memang tengah memandangi wajahnya pada bayangan tenang di air kolam.
Akan tetapi, kali ini Narkissos tak puas hanya memandangi wajahnya dalam bayangan air kolam. Ia pun menjulurkan tangannya hendak menyentuh wajah yang dicintainya. Sialnya, ia malah kemudian tenggelam.
Sigmund Freud, tokoh ilmu psikologi dunia, pertama kali menyadur cerita Narkissos ini untuk menggambarkan sifat manusia yang cinta diri sendiri secara berlebihan dan disebut dengan gejala narsisisme (bahasa Inggris) atau narsisme (bahasa Belanda).
Namun kini, istilah narsisme jauh mengalami perubahan makna kata menjadi lebih baik. Narsisme kini berubah arti menjadi sebuah cara mengeksplorasi diri sebagai bentuk kepercayaan diri dalam bentuk positif. 

 
Pada era tahun 2000-an, istilah narsis jarang terdengar kecuali di kalangan tertentu. Tapi satu dekade setelahnya, dimana dunia semakin mengenal teknologi, semua orang sudah paham betul artinya.
Munculnya ‘dinasti’ Facebook menyuburkan aksi narsis produktif. Penggunanya seringkali mengunduh foto-foto dirinya. Ya, hanya dirinya, dengan jumlah yang banyak di akun miliknya di situs tersebut.
Dan sifat narsis semakin menyebar sejak kanal Youtube dibuka Chad Hurley di San Bruno, California, Amerika Serikat tahun 2005. Sebelum dibuka, unggahan video ke jejaring sosial memang sudah pernah dilakukan dengan bantuan koneksi internet.
Namun sejak Youtube dibuka, kanal tersebut seakan-akan terus dibanjiri beragam video jutaan manusia setiap harinya.
Tahun 2007 saja, unggahan video ke situs jejaring video ini mencapai 10 persen dari trafik internet seluruh dunia. Bahkan, persentase Youtube yang digunakan masyarakat Indonesia mengambil market share 23 persen dari seluruh negara di Asia. Perkembangannya juga terus menggurita seiring banyaknya artis-artis debutan dari kanal ini. Lihat saja, hampir seluruh masyarakat Indonesia kini mengetahui fenomena keong racun dari Sinta dan Jojo, dua mahasiswi geulis dari Bandung yang rela memonyong-monyongkan bibirnya di depan web kamera. Hasil iseng itu, berbuah popularitas keduanya yang pada ketika itu langsung melejit bak roket ke angkasa.
Publik juga pasti familiar dengan nama Briptu Norman. Norman juga tenar berkat jodeg India dan lipsync lagu Chaya-Chaya. Ketenarannya membuat lidah berdecak kagum, dan kini dia sudah sepenuhnya menjadi selebritis.
Narsis produktif, kini menjadi tujuan dari banyak orang yang memanfaatkannya. Youtube hadir sebagai media hiburan, berbagi informasi yang lebih nyata dengan gambar bergerak, dan juga: Mencari popularitas.
Selain dipenuhi video tips memasak, mengenakan kerudung, menjahit baju, membongkar mesin, sudah tak asing lagi jika Youtube pun kini menjadi “perusahaan rekaman” kedua bagi mereka yang ingin tampil sebagai penyanyi.
Sebelum mengenal youtube, seorang Justin Bieber hanyalah anak berbakat dari Kanada yang bakatnya sulit sekali dikenali dengan hanya fokus pada perlombaan menyanyi. Tapi sejak videonya diunggah, dan ditemukan produser musik handal, lihatlah Justin sekarang. Ia menjelma menjadi idola jutaan remaja dunia dan mampu menghabiskan perawatan rambut senilai Rp 1 miliar per bulannya!!
Dengan keberhasilan ini, nasib seperti Justin tentu didambakan sebagian orang. Harapan mereka pun disandarkan pada ampuhnya Youtube. Cari lokasi dengan pencahayaan bagus, kenakan baju terbaikmu, rekam aksimu, dan unggah ke situs ini. Voila! Jika orang senang dengan videomu dan nasib baik berpihak, seketika Anda bisa menjadi artis.
Seperti halnya jejaring sosial lainnya, Youtube juga mengandalkan koneksi jaringan internet agar bisa mengaksesnya. Karena itu, tak salah jika sepuluh tahun lagi, trafik data (internet) dunia akan semakin ramai dan sibuk dengan pertumbuhan unggahan video mencapai 75 persen dari keseluruhan bandwith internet.
Melihat potensi itu, PT XL Axiata telah menanamkan investasi sebesar Rp 8 trilyun di tahun ini, dengan 60 persen dari total investasinya untuk investasi 3G. Dimana upaya ini untuk mendukung perubahan akses dari 2G menjadi 3G di Indonesia.
Investasi tersebut akan membangun sekitar 30 ribu BTS, pengembangan BTS 3G di puluhan kota, serta upaya mengedukasi pelanggan beralih ke layanan 3G yang lebih nyaman.
Penggunaan XL 3G diharapkan memberi keuntungan bagi pelanggan karena akan mendapat koneksi lebih cepat. Saat ini, dari total pelanggan XL berjumlah 46 juta pelanggan, sebanyak 26-27 juta pelanggan merupakan pengguna data. Dari angka tersebut, 7 juta pelanggan menggunakan data setiap hari serta 1,8-2 juta pelanggan menggunakan data tergolong besar.
Jelas sudah, potensi besar ini direspon dengan tanggung jawab XL mengusahakan pelayanan lebih baik bagi penggunanya. Jadi, siapa takut narsis produktif??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar