Kamis, 19 Juli 2012

Inspirasi India Bagi Jawa Barat

Pernahkan Anda melihat film pemenang delapan piala Oscar 2008, Slumdog Millionare? Jika pernah, maka pasti sepakat adanya bahwa kondisi dan latar belakang film tersebut sangat serupa dengan apa yang terjadi di Indonesia. Kemiskinan masih berdenyut di segala sendi, eksploitasi kesengsaraan menjadi ’komoditas’ tersendiri, masyarakat bermimpi kaya raya hanya dengan ikut kuis, dan contoh lainnya yang biasa kita temui sehari-hari.  Pun demikian, satu perbedaan mencolok terjadi di adegan pertengahan film manakala sang pemeran utama, Jamal Malik, berperan sebagai operator telepon yang melayani pelanggan sebuah operator seluler di seluruh dunia. Melalui koneksi internet dan telepon tetap, Jamal saat itu terpaksa melayani pelanggan operator seluler dari Manchester, Inggris sekalipun dirinya tinggal di Mumbai, India. Isu sekat negara, jarak, dan waktu pada bisnis sudah tidak relevan. Sang sutradara film, Danny Boyle, menampilkan film yang menggambarkan apa yang sedang dan akan terjadi dalam bisnis aktual.
India, sebuah negara berkembang di Asia Selatan, kini tercatat sebagai negara penyedia jasa service center terbesar di dunia. Dengan sistem kerja outsourcing yang menjalankan roda usahanya berbasis internet, banyak perusahaan India yang berbasis di wilayah Bangalore, menjadi mitra operator telepon global sebesar British Telecom dan AT&T. Ratusan anak muda di negeri Hindustan itu, selama 24 jam dan tujuh hari, bergiliran menerima komplain pengguna layanan, dengan peranan tak ubahnya customer service sesungguhnya dari operator global tadi. Menariknya, sebagaimana disampaikan Nandan Nilekani, CEO jasa outsourcing terbesar di India, anak muda itu sengaja dilatih aksen bahasanya. Ada yang dilatih aksen british, ada pula dilatih aksen bahasa slank khas Amerika Serikat (The World is Flat, 2005). Dengan demikian, melihat apa yang terjadi pada pembuka tulisan di atas ini, kini tak ada lagi kesenjangan sosio-ekonomi India sebagai negara Asia yang pendapatan per kapitanya minim, dengan Inggris yang masyarakatnya sejahtera. Kesenjangan ini, dipercaya telah dileburkan oleh teknologi internet yang membuka akses di semua lini. Potensi negara berkembang, bahkan negara dunia ketiga yang identik miskin dan terbelakang, sebenarnya bisa sama bagusnya dengan yang diraih negara maju.

Dan nyatanya, opini ini bukan sekedar manis di bibir. Data faktual menunjukkan bahwa kemajuan pesat yang diraih Korea Selatan di bidang manufaktur ditunjang penetrasi internet yang sudah mencapai 80% dari total rumah tangga. Bukan hanya itu. Munculnya Taiwan sebagai pusat produksi chip pesanan vendor prosesor kakap seperti Intel dan AMD juga dipercaya akibat penetrasi internet 100% di negara berpenduduk 6 juta orang itu (broadbandtrends.com, Maret 2008). Pada data lebih makro yang dirilis eMarketer.com, pendapatan berikut jumlah pelanggan internet dari kawasan Asia saat ini sudah mencapai 20,1% atau urutan ketiga setelah Eropa Barat 27,6% serta Amerika Utara 23,2%.

Oleh karenanya, dalam tataran lebih kecil dan membumi, potensi masyarakat Jawa Barat di wilayah pedesaan maupun pesisir, sesungguhnya bisa sama melesatnya dengan kota apabila mampu memanfaatkan fasilitas teknologi informasi tersedia secara optimal. Direktur Jenderal Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika  (Depkominfo) Cahyana Ahmadjayadi menegaskan kebijakan Pemerintah pada tahun 2015 menjadikan Indonesia sebagai bagian dari Masyarakat Informasi Global.  Dimana salah satu syaratnya yakni paling tidak 50 persen dari masyarakat Indonesia memiliki akses internet. Untuk tujuan itu, maka pada tahun ini Depkominfo menggulirkan program Masyarakat Komunikasi Indonesia. Diantaranya membangun akses internet komunitas atau Community Access Point (CAP) di seluruh wilayah perdesaan. Sementara itu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan Pemprov Jabar berharap dan mendorong investor teknologi informasi untuk tidak hanya ‘menyerbu” wilayah perkotaan, tetapi juga mengalihkan target investasi ke wilayah pedesaan,  Provinsi Jawa Barat memiliki 5.813 desa yang belum sepenuhnya memiliki infrastruktur telekomunikasi, termasuk kawasan Jawa Barat Selatan. Gubernur berharap agar para pengusaha telekomunikasi bersedia membangun jaringan telekomunikasi di pedesaan, dan membidik Jabar Selatan sebagai target investasi selanjutnya. Pemprov Jabar sudah menyiapkan sejumlah program yang didukung APBD, selain akan memberikan kemudahan regulasi. Setidaknya ada alokasi dana untuk perbaikan infrastruktur berkisar 14 persen dari jumlah APBD 2009 atau berkisar Rp490 miliar. Jumlah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan alokasi pada 2008 yang hanya Rp300 miliar.
Pada alokasi APBD untuk pembangunan infrastruktur selain pembangunan dan perbaikan jalan, Heryawan berharap agar investor dapat mempertimbangkan rencana perbaikan infratruktur, termasuk investasi TI di tingkat pedesaan yang masih minim padahal sebenarnya cukup potensial.

Memang saat ini jasa layanan internet kian mudah diakses masyarakat, di lokasi manapun. Dengan berbasis layanan seluler yang wilayah cakupannya kian meluas, akses internet saat ini mudah dilakukan hanya di genggaman tangan. Bukan sekedar tersedia, tarif yang diberikan masyarakat pun kian terjangkau. Sebut misalnya tarif Internet Unlimitted yang hanya Rp5.000 per hari, atau  kartu prabayar dengan tarif yang sangat murah dan gratis SMS. Dengan situasi tersebut, secara praktis, masyarakat di Tasikmalaya misalnya, sebenarnya tidak perlu lagi datang ke Bandung saat mencari literatur pendidikan yang misalnya banyak terdapat di bursa buku Palasari. Dengan sentuhan telunjuk di ujung keypad atau mouse, data literatur yang berjumlah ribuan dengan varian konten sangat kaya, kini sudah bisa dipelajari sendiri (e-learning) masyarakat di wilayah marjinal dengan biaya super-efisien. Contoh lain  masyarakat di Desa Cigalontang Kab. Cianjur  pun sebenarnya bisa masuk arus jejaring sosial global semacam facebook, yang mungkin gilirannya akan mendorong komunikasi bisnis komoditas alam dengan siapapun di belahan manapun. Hanya dua tantangan yang harus dikikis jika percepatan kesetaraan informasi di semua wilayah Jabar ini ingin segera meluas. Yakni menggelorakan spirit pemerintah daerah yang sudah ada soal teknologi informasi ke dalam gerakan yang kontinyu. Jika ini sudah dilakukan, selanjutnya adalah menggiring visi kesetaraan akses internet ini ke tataran praktis yang lebih simpel dan manfaatnya bisa segera dirasakan oleh masyarakat di Tatar Pasundan.
Percayalah, jika dua hal ini bisa dilakukan, maka inspirasi Jamal Malik dari Bangalore, India bukan sekedar imaji fiktif di layar lebar. Tapi sungguh bisa dipraktekkan publik di Tatar Pasundan dalam memudahkan hidup dan meningkatkan kesejahteraannya. Percayalah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar