Pernahkan Anda melihat film pemenang delapan
piala Oscar 2008, Slumdog Millionare? Jika pernah, maka pasti
sepakat adanya bahwa kondisi dan latar belakang film tersebut sangat
serupa dengan apa yang terjadi di Indonesia. Kemiskinan masih berdenyut
di segala sendi, eksploitasi kesengsaraan menjadi
’komoditas’ tersendiri, masyarakat bermimpi kaya raya hanya dengan ikut
kuis, dan contoh lainnya yang biasa kita temui sehari-hari. Pun
demikian, satu perbedaan mencolok terjadi di adegan pertengahan film
manakala sang pemeran utama, Jamal Malik, berperan
sebagai operator telepon yang melayani pelanggan sebuah operator
seluler di seluruh dunia. Melalui koneksi internet dan telepon tetap,
Jamal saat itu terpaksa melayani pelanggan operator seluler dari
Manchester, Inggris sekalipun dirinya tinggal di Mumbai,
India. Isu sekat negara, jarak, dan waktu pada bisnis sudah tidak
relevan. Sang sutradara film, Danny Boyle, menampilkan film yang
menggambarkan apa yang sedang dan akan terjadi dalam bisnis aktual.
India, sebuah negara berkembang di Asia Selatan, kini tercatat
sebagai negara penyedia jasa service center terbesar di dunia. Dengan sistem kerja
outsourcing yang menjalankan roda usahanya berbasis internet, banyak perusahaan India yang berbasis di wilayah
Bangalore, menjadi mitra operator telepon global sebesar British
Telecom dan AT&T. Ratusan anak muda di negeri Hindustan itu, selama
24 jam dan tujuh hari, bergiliran menerima komplain pengguna layanan,
dengan peranan tak ubahnya
customer service sesungguhnya dari operator global tadi. Menariknya, sebagaimana disampaikan Nandan Nilekani, CEO jasa
outsourcing terbesar di India, anak muda itu sengaja dilatih aksen bahasanya. Ada yang dilatih aksen
british, ada pula dilatih aksen bahasa slank khas Amerika Serikat (The World is Flat,
2005). Dengan demikian, melihat apa yang terjadi pada pembuka tulisan
di atas ini, kini tak ada lagi kesenjangan sosio-ekonomi India sebagai
negara Asia
yang pendapatan per kapitanya minim, dengan Inggris yang masyarakatnya
sejahtera. Kesenjangan ini, dipercaya telah dileburkan oleh teknologi
internet yang membuka akses di semua lini. Potensi negara berkembang,
bahkan negara dunia ketiga yang identik miskin
dan terbelakang, sebenarnya bisa sama bagusnya dengan yang diraih
negara maju.
Dan
nyatanya, opini ini bukan sekedar manis di bibir. Data faktual
menunjukkan bahwa kemajuan pesat yang diraih Korea Selatan di bidang
manufaktur ditunjang penetrasi internet yang sudah mencapai 80% dari
total rumah tangga. Bukan hanya itu. Munculnya Taiwan sebagai pusat
produksi
chip pesanan vendor prosesor kakap seperti Intel dan AMD juga
dipercaya akibat penetrasi internet 100% di negara berpenduduk 6 juta
orang itu (broadbandtrends.com,
Maret 2008). Pada data lebih makro yang dirilis eMarketer.com,
pendapatan berikut
jumlah pelanggan internet dari kawasan Asia saat ini sudah mencapai
20,1% atau urutan ketiga setelah Eropa Barat 27,6% serta Amerika Utara
23,2%.
Oleh
karenanya, dalam tataran lebih kecil dan membumi, potensi masyarakat
Jawa Barat di wilayah pedesaan maupun pesisir, sesungguhnya
bisa sama melesatnya dengan kota apabila mampu memanfaatkan fasilitas
teknologi informasi tersedia secara optimal.
Direktur Jenderal Aplikasi Telematika Departemen
Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) Cahyana Ahmadjayadi menegaskan
kebijakan Pemerintah pada tahun 2015 menjadikan Indonesia sebagai bagian
dari Masyarakat Informasi Global. Dimana
salah satu syaratnya yakni paling tidak 50 persen dari masyarakat
Indonesia memiliki akses internet. Untuk tujuan itu, maka pada tahun ini
Depkominfo menggulirkan program Masyarakat Komunikasi Indonesia.
Diantaranya membangun akses internet komunitas atau
Community Access Point (CAP) di seluruh wilayah perdesaan. Sementara itu Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan
Pemprov Jabar berharap dan mendorong investor teknologi informasi untuk
tidak hanya ‘menyerbu” wilayah perkotaan, tetapi juga mengalihkan
target investasi ke wilayah pedesaan, Provinsi Jawa Barat memiliki
5.813 desa yang belum sepenuhnya memiliki infrastruktur
telekomunikasi, termasuk kawasan Jawa Barat Selatan. Gubernur berharap
agar para pengusaha telekomunikasi bersedia membangun jaringan
telekomunikasi di pedesaan, dan membidik Jabar Selatan sebagai target
investasi selanjutnya. Pemprov Jabar sudah menyiapkan
sejumlah program yang didukung APBD, selain akan memberikan kemudahan
regulasi. Setidaknya ada alokasi dana untuk perbaikan infrastruktur
berkisar 14 persen dari jumlah APBD 2009 atau berkisar Rp490 miliar.
Jumlah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan
alokasi pada 2008 yang hanya Rp300 miliar.
Pada alokasi APBD untuk pembangunan infrastruktur selain pembangunan dan perbaikan jalan, Heryawan berharap agar investor dapat mempertimbangkan rencana perbaikan infratruktur, termasuk investasi TI di tingkat pedesaan yang masih minim padahal sebenarnya cukup potensial.
Pada alokasi APBD untuk pembangunan infrastruktur selain pembangunan dan perbaikan jalan, Heryawan berharap agar investor dapat mempertimbangkan rencana perbaikan infratruktur, termasuk investasi TI di tingkat pedesaan yang masih minim padahal sebenarnya cukup potensial.
Memang saat ini jasa layanan internet kian mudah diakses masyarakat, di lokasi manapun. Dengan berbasis layanan seluler yang wilayah cakupannya kian meluas, akses internet saat ini mudah dilakukan hanya di genggaman tangan. Bukan sekedar tersedia, tarif yang diberikan masyarakat pun kian terjangkau. Sebut misalnya tarif Internet Unlimitted yang hanya Rp5.000 per hari, atau kartu prabayar dengan tarif yang sangat murah dan gratis SMS. Dengan situasi tersebut, secara praktis, masyarakat di Tasikmalaya misalnya, sebenarnya tidak perlu lagi datang ke Bandung saat mencari literatur pendidikan yang misalnya banyak terdapat di bursa buku Palasari. Dengan sentuhan telunjuk di ujung keypad atau mouse, data literatur yang berjumlah ribuan dengan varian konten sangat kaya, kini sudah bisa dipelajari sendiri (e-learning) masyarakat di wilayah marjinal dengan biaya super-efisien. Contoh lain masyarakat di Desa Cigalontang Kab. Cianjur pun sebenarnya bisa masuk arus jejaring sosial global semacam facebook, yang mungkin gilirannya akan mendorong komunikasi bisnis komoditas alam dengan siapapun di belahan manapun. Hanya dua tantangan yang harus dikikis jika percepatan kesetaraan informasi di semua wilayah Jabar ini ingin segera meluas. Yakni menggelorakan spirit pemerintah daerah yang sudah ada soal teknologi informasi ke dalam gerakan yang kontinyu. Jika ini sudah dilakukan, selanjutnya adalah menggiring visi kesetaraan akses internet ini ke tataran praktis yang lebih simpel dan manfaatnya bisa segera dirasakan oleh masyarakat di Tatar Pasundan.
Percayalah,
jika dua hal ini bisa dilakukan, maka inspirasi Jamal Malik dari
Bangalore, India bukan sekedar imaji fiktif di layar lebar.
Tapi sungguh bisa dipraktekkan publik di Tatar Pasundan dalam
memudahkan hidup dan meningkatkan kesejahteraannya.
Percayalah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar